Alkisah ada seorang raja, yang memiliki 3 orang puteri yang sangat cantik. Sang raja memiliki satu pusaka kerajaan yang ia ingin wariskan kepada salah satu puterinya. Namun ia binggung memilih. Maka ia pun membuat sebuah sayembara kecil. Kepada ketiga puterinya ia bertanya, siapakah diantara ketiganya yang paling mencintai sang raja ? Sedalam apakah mereka mencintai sang raja ? Ketiga putrinya diberi waktu seminggu untuk berpikir.
Saat hari sayembara tiba. Puteri sulung dengan berbinar-binar, mengatakan ia sangat mencintai ayahnya, ibaratnya setinggi langit dan sedalam laut yang biru. Tidak terukur dan dipenuhi dengan keindahan bintang dan ikan-ikan.
Raja sangat puas dan tersenyum bahagia. Giliran puteri yang kedua, ia bertutur mencintai ayahnya ibarat emas dan batu permata. Berkilau dan tidak ternilai harganya. Lagi lagi raja tersenyum puas. Ketika tiba giliran puteri bungsu, dengan polosnya, ia mengatakan cinta kepada ayahnya sedalam garam. Raja kaget. Marah dan merasa terhina. Ia lalu mengusir sang puteri bungsu. Puteri bungsu menjadi sangat sedih dan pergi dari kerajaan.
Konon kesedihan sang puteri bungsu mengusik dewa dewi dikahyangan. Malam itu semua garam yang ada di kerajaan berubah menjadi air laut, bintang, emas dan permata. Esok harinya seluruh kerajaan gempar. Rakyat ribut tidak memiliki garam. Semua makanan menjadi hambar dan tidak enak. Rakyat kehilangan selera makan. Barulah raja mengerti arti cinta sesungguhnya dari sang puteri bungsunya. Tetapi semuanya sudah terlambat.
*original post from here. Re-told by my mom, dengan versi yang sedikit berbeda.
Percaya atau tidak kebahagian itu mirip garam. Kita tidak pernah merasakan nikmatnya, sampai pada saat kita butuh. (more…)



Yang ikut corat coret