Pipa Pembuangan Terkotor

“Kalian tahu lubang pembuangan paling kotor di dunia?” Nek Kiba memukulkan rotan ke lantai ppan, menyuruh kami memperhatikan ke depan.

“Mungkin lubang toilet di rumah, Nek!” Burlian mengacungkan tangan, seperti biasa sok-tahu
Nek Kiba menggeleng. Bukan itu.

“Mungkin tempat sampah kampung, Nek!” Can ikut mengacungkan tangan – seperti biasa ngasal.

“Oi mana ada lubangnya disana? Kau asal bunyi saja,” Nek Kiba menyemburkan kunyahan sirih ke gelas. Anak-anak yang sedang belajar mengaji tertawa, menertawakan Can yang menggaruk kepala.

“Mungkin pipa pembuangan pabrik karet, Nek!” Aku ikut mengacungkan tangan.

“Bukan. Meski kau benar, memang bau sekali pipa itu. Membuat mual.”
Dan kami terdiam. Satu menit. Hanya suara tetes air hujan yang terdengr. Lima menit.

“Kalian mau tahu?” Nek Kiba menatap kami lamat-lamat.

Kami semua mengangguk. Ah, kalau sudah begini, cara Nek Kiba bercerita dramatis sekali, semua anak menatap antusias wajah tua dengan banyak kerutan itu.

Lubang pembuangan terkotor di dunia adalah mulut kita.” Nek Kiba menghela nafas pelan, “Mulut kitalah yang setiap hari mengeluarkan bau paling memualkan, mulut kitalah yang tega mengunyah bangkai, mulut kitalah yang menelan lantas memuntahkan kotoran busuk..”

“Oi, andaikata kalian bisa menjaganya, tetap kebanyakan dari kalian bisa menghindari mulut mnegeluarkan sampah-sampah tidak berguna, meski tidak bau dan tidak mengganggu. Kalian tetap sering mengeluarkan ucapan mubazir, perkaaan sia-sia. Apalagi yang sama sekali tidak bisa menjaganya. Sungguh itulah lubang pembuangan terkotor di dunia.”

Kami terdiam. Amat mengerti sindiran Nek Kiba.

Bergunjing itu jahat.” Nek Kiba menghentakkan rotan sekali lagi, “Kalian tahu laksana apa seorang yang suka bergunjing? Laksana dia mengunyah bangkai saudaranya itu. Jika kalian justru beramai-ramai melakukannya, maka itu ibarat berpesta-pora mengunyah bangkai busuk, penuh belatung dan nanah. Menjijikkan, bahkan babi sekalipun tidak mau melakukannya. Tetapi itulah kebenarannya, hanya mulut paling kotor sedunialah yang tega memakannya. Tidak lebih tidak kurang.”

Di luar gerimis semakin menderas. Aku mengusap dahi yang entah kenapa berkeringat meski udara terasa dingin. Nek Kiba benar, mulut kamilah yang kotor. Oi, mulut akulah yang kotor.

Maafkan aku Samsurat. Sungguh maafkan.
***************************************************************

cuplikan novel Pukat halaman 270-271 yang ditulis Tere-Liye. Salah satu penulis favorit saya.

my fave
Tidak berlebihan yang ditulisnya memang, begitu jelas disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat 12:

“Wahai orang-orang beriman, jauhkanlah dirimu dari banyak berprasangka sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah perbuatan dosa. Dan jangan pula saling memata-matai maupun menggunjing satu sama lain. Adakah salah seorang diantaramu gemar memakan daging mayat saudaramu sendiri? Pastilah kamu merasa jijik! Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.”

tampaknya tidak usah saya jelaskan panjang lebar. Telah disampaikan di novel itu dengan sangat jelas.

“Nek Kiba benar, mulut kamilah yang kotor. Oi, mulut akulah yang kotor.”

Jagalah lisan kami dari sesuatu yang tidak bermanfaat ya Allah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s