kisah saya dan sepucuk angkot (1)

Aaah ngetem lagi ngetem lagi

Atau

Serobot sana sini alamakjaaaang

Atau yang lebih kejam

*&^%$() ^_^@!#****:P (censored)

Kata kata di atas mungkin pernah (atau sering) kita dengar saat melihat tingkah polah benda warni warna sahabat para peggembala. Ankutan kota atau lebih trendnya : angkot

Tak ada perbedaan yang signifikan antara pengalaman saya dan sepucuk angkot, begitu begitu saja, terlebih dengan statement yang pertama “ngetem lagi ngetem lagi” . memang besar sekali ikhtiar sang mang angkot untuk mendapatkan sejumlah lebih. Perbuatan perbuatan yang kadangkala membuat hati dongkol.

Namun dibalik itu semua, angkot pun mempunyai sis yang baik seperti layaknya manusia *cailah* Sampai detik ini, udah ada 3 kejadian mengharukan antara saya dan angkutan kota

Kejadian pertama terjadi ketika saya masih berada di masa masa unyu. Tahap Persiapan Bersama (tingkat 1, red).

Saat itu, saya tergopoh gopoh kembali ke kampus karena ada suatu hal (ntah hal apa itu saya lupa). Yang jelas saya tidak membawa tas, hanya ponsel di tangan kanan, dan sebungkus coklat di tangan kiri. Hanya itu. Dan baru saya sadari ketika sudah duduk manis di dalam angkot hijau yang membawa saya menuju kampus. Hendak bersiap siap turun dan membayar, saya mulai berbalik badan berharap untuk membuka tas. Dan blass saya ga bawa tas ya? Oh iya. Dan. Loh. Ga bawa tas ya? Berarti ga bawa dompet juga? Alamak, saya mulai panik layaknya mahasiswa yang akan menghadapi UAS 3 hari lagi  dan belum belajar setitik pun.

Saya berusaha tenang. Menghitung 1..2..3..bimsalabim! berharap dompet dan beberapa lembar seribuan muncul ketika saya membuka mata, namun nihil. Kosong yang saya dapatkan. Apa apaan, kepanikan saya meningkat seperti mahasiswa yang baru baca beberapa lembar catatan saat h-1 UAS. Ah ya, saya mulai menyadari bahwa hanya ponsel dan coklat yang ada di genggaman saya, tanpa sepeser uang pun. Saya mulai melakukan aksi seperti melihat – lihat ke bawah kursi angkot, siapa tau dompet saya disitu, mengelus ngelus kantong rok saya dan terbukti tidak membantu apapun. Memperhatikan satu saau tiap penumpang angkot berharap bertemu dengan salahs atu kenalan dan bilang “dompet gue ketinggalan, boleh pinjem duit dulu ga buat ongkos?” . dan lagi lagi : NIHIL. Yang ada hanya raut raut asing yang –mungkin- tanpa saya sadari memperhatikan gelagat saya yang mulai tidak wajar.

Gawat!

kira kira 100 meter lagi tempat tujuan saya akan dilewati. It means : u have to pay. But now, I have nothing. Ga bawa uang oy. Saya mulai berfikir apa saya menggadaikan salah satu benda yang saya pakai saja? Ada jam tangan dan ponsel dan coklat. Jam dan ponsel? Ga mungkin yaw secara ngangkot paling cuma 1500, enak aja. Dan tersisa pilihan terakhir : sebungkus coklat. Ccoklat yang saya bawa ini adalah pemberian keluarga yang baru pulang umroh, coklat arab ceritanya, ada sekitar 5-6 biji dalam 1 plastik, sebenernya milk chocolate biasa, tapi bungkusnya itu loh yang ada tulisan arab-arabnya yang membuat nilai jual si coklat ini menjadi lebih patut diperhitungkan. Tidak ada pilihan lain, saya pun memulai dengan basmallah, dan berbisik : wahai coklat, kamu yang akan saya korbankan.

Titik tujuan semakin lama semakin dekat, saya berkata dengan sedikit gugup “kiri kiri”

Angkot melambat dan merapat. Saya pun melangkah keluar dan memberanikan diri bilang ke mang angkot. Dimulai dengan tersenyum –yang konon katanya akan memberikan kesan akrab, setidaknya begitulah segelintir ilmu psikologi yang saya baca- saya pun berkata, : “mang, dompet saya ketinggalan, bayarnya pake coklat ini aja ya,” gemeteran

Sambil malu malu kucing saya menyodorkan seplastik coklat  ke arah mang angkot.

Mang angkot bengong. Imajinasi saya mulai berkelana jauh , dalam benak saya mang angkot histeris dan berkata : apaaa! Masuk lagi dalam angkot, beres narik, siah cuci mobil aing

Mampus . imajinasi macam apa itu

Dan yang terjadi absolutely different . 181 derajat dari bayangan , mang angkot dengan lembu berkata dalam logat sunda : teu nanaon neng. Gausah bayar. Sambil tersenyum dan menginjak gas meninggalkan saya yang..agak agak ga percaya “ga salah denger ini?”

What?

Dia bilang apa tadi? “gapapa neng, gausah bayar”

Allahuakbar! Allah Maha Besar. Coklat saya selamat dari kelaliman tindakan saya sendiri : lupa bawa dompet

Alhamdulillah. Mang angkot sama sekali ga marah dan ga cerewet, malah senyum, gimana sik? Apakah efek trik psikologis yang saya terapkan, atau efek supranatural dari makhluk mars, atau efek apa? Entahlah. Yang pasti saya sangat bersyukur. Pertama : coklatkuh selamat kyaa😀 kedua : masih banyak kok mang angkot yang peduli dengan nasib penumpangnya

Yah walaupun setelah angkot berlalu beberapa penumpang lain berusaha mencuri pandang ke arah saya melalui jendela belakang dengan tatapan kasihan, hinaan, atau apresiasi mugkin? (ngarep)

Yang jelas saya bersyukur. Makasi yah mamang angkot , semoga rezekinya selalu dilancarkan sama Allah. Amiin.

continu..

2 thoughts on “kisah saya dan sepucuk angkot (1)

  1. Pingback: sepucuk dan angkot saya (2) « corat coret si duin

  2. Pingback: macet ? | corat coret si duin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s