sepucuk dan angkot saya (2)

sambungan nyang pertamee.. saya dan sepucuk angkot

Cerita kedua. Masih tentang angkot. Topik hangat yang tak habis habis untuk dibahas (iya gitu? iya ajalah). Kali ini saya bertindak sebagai pengamat, yang mengamati penumpang yang datang dan pergi sesuka hati ~naon.

Dalam jarak tertentu, biasanya mang angkot mematok harga tertentu pula, tak terkecuali dengan angkot yang saya tumpangi saat itu. Saat itu saya ngambil angkot dari depan kampus, mau pulang. Ga jauh dari saya naik, naik pula seorang mbak-mbak dan beberapa orang lainnya. Jalanlah si angkot dan sampei ke simpang dago (kalo ga salah) Si mbak bilang : kiri. Bak dititah oleh seorang raja, mang angkot secara otomatis melakukan perlambatan dan stop beberapa detik setelah perintah “kiri” dilontarkan.

Transaksi pun terjadi. Selembar uang seribuan dilayangkan kepada mang angkot. Sang mbak merasa jumlah segitu adalah harga yang pantas diberikan unttuk jarak sedekat itu, ia pun melengos pergi. Namun sekejap kemudian, mang angkot angkat bicara, “neng, kurang 500”

Mbak nya menoleh dan membalas “biasanya juga segitu”

Tak kalah sengit “ kurang neng seribuan mah, 500 lagi”

Raut muka mbak berubah, terlihat gurat kekesalan disana, namun memperpanjang debat kusir pun akan memperkeruh suasana. Sebagai solusi terbaik, ia pun mengeluarkan sebuah logam emas berkilauan bertulisan 500. Tanpa mengucap apapun dan beranjak pergi. Pihak yang menang –dalam konteks ini mang angkot- merayakan keberhasilannya dengan sejenak bersiul setelah kejadian itu.

Saya terenyuh.*apa sih*

Bukan sekali dua kali kejadian yang sama telah saya saksikan. Maka dengan niat dalam hati, saya pun berazzam, mending kasih lebih deh daripada kurang, kan malu

Maka, tibalah giliran saya menjadi objek penderita bukan hanya sekedar pengamat. Menjelang senja saya pun menumpangi angkot untuk beranjak pulang ke peraduan. Dengan jarak segitu biasanya ongkos adalah 1500. Saya pun grepe grepe kantong tas dan hanya mendapati selembar seribuan dan selembar duaribuan. Oke. Saya pikir akan lebih bijaksana jika menggunakan uang 2ribuan. Teringat sama kejadian mbak mbak rebonding, daripada diteriakin “kurang limaratus” udah aja kasih lebih. Angkotnya lagi sepi juga. Urusan kembalian atau nggak, itu belakangan.

Singkat cerita, tibalah saya di tempat yang dimaksud. “kiri” angkot merapat, transaksi terjadi dan selesai. Saat hendak menyebrang, sang angkot belum juga beranjak dari tempat dia berhenti. Mungkin ngetem, pikir saya. Celinguk kiri kanan, ancang ancang nyebrang, mang angkot buka suara. Kirainn sia mo bilang “neng kurang” kurang apanya, malah udah dikasi lebih coba. Eh dia malah bilang “neng uangnya kelebihan, ini kembaliannya”

Hah? Itu kan 2ribuan, kenapa niat amat ngembaliin limaratus-an, pikir saya

Yaudah deh, demi menjunjung tinggi etika dan moral, saya pun kembali menyamperi mang angkot. Dia bilang : “uangnya tadi 10ribu, ini kembaliannya 8500”

Hah?

Apa saya sudah sedemikian rabun sampe gabisa ngebedain uang 2ribuan dan sepuluh ribuan? Au ah gelap.lupakan.

Saya menerima kembalian dengan takzim dan kembali bersyukur

Alhamdulillah. Mang angkot ini jujur banget, bisa aja kan dia langsung ngeloyor pergi membawa 8500 yang bukan haknya? Orang saya juga ga sadar kan. Tapi dia milih untuk memanggil saya dan mengembalikan sejumlah uang itu kepada yang punya. Sebenernya 8500 apa sih, beli nasi gila aj sekarang 11ribu. Bukan maksud saya meremehkan, bukaan. Namun justru sebaliknya, saya justru mengapresiasi kejujuran mang angkot itu tadi. Dengan 8500, dia sudah membuktikan bahwa dirinya adalah mang angkot jujur dan terpercaya. Sungguh kalo misalnya itu di dalam balai sarbini atau gedung konser, sayalah yang pertama standing ovation (tepuk tangan berdiri, red) mendahului ahmad dani atau agnes monica. But in real, saya di berada pinggir jalan dan hendak menyebrang, apa jadinya kalo saya nyebrang sambil tepuk tangan ckck. Saya hanya bergumam dalam hati : Alhamdulillah, tambahlah rizkiMu pada orang orang yang jujur seperti mang angkot tadi ya Allah

Kebaikan dan pelajaran hidup kadang bisa kita petik dari orang orang itu tadi. Mang angkot mengajarkan saya satu hal yang berharga : be an honest person.

jujur itu mujur

continu…

3 thoughts on “sepucuk dan angkot saya (2)

  1. Pingback: dan sayalah sepucuk angkot (3) « corat coret si duin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s