Kuis Berhadiah dan Goa Pawon

Rasanya udah lamaaa banget ga berinteraksi sama orang orang lewat jejaring sosial. Padahal dikate hape smart, tapi kenyataannya ga smart smart amat, asal login seringan “service unavailable”. Mentang mentang saya pake paket terhemat dari operator dengan dominasi warna kuning itu. Bah. Unbelievable. Jadi yang salah siapa? Hapenya? Operatornya? Apa usernya yang sering bokek pulsa?  :]

So, tadi sebentar saya buka jejaring sosial dengan modal internet tetangga –teman kosan saya- . Dikarenakan modem saya juga sedang bernasib sama. Tak bernyawa. Tak berpulsa *cry* . Untung Nadia dengan baik hatinya memberikan saya jatah stengah jam surfing, sebelum ia mengerjakan tugas. Kami ini selalu berbagi loh dalam urusan apapun. Makan. Minum. Cemilan. Film. Laptop. Lulur. Sisir. Baju. Kerudung. Bantal. Selimut. Whatever. Bahkan untuk barang barang yang mungkin dianggap pribadi –sesekali- kami tak segan segan berbagi. Semuanya dianggap enteng. Semua dibagi. Semua di share. Ga pake masalah, ga pake berantem dan ga perlu pake ijin. Sweet yaa❤ ntar saya tulis deh tentang ke-sweetness-an teman teman kosan saya, especially her,  semoga saya ingat😉

Eh sampe mana tadi?

Ohya. Dari melihat newsfeed saja, mulai dari status, wall post, foto-foto, dan lain lain, saya berdecak kagum. Udah lama banget sih ga buka ini. Saya tau si anu sakit, saya liat si anu lebaran di manalah, saya juga jadi ngeh kalo salah satu teman saya akan menggelar sebuah acara sakral, yang kerap menjadi bahan perbincangan mahasiswa tingkat 4, sekali seumur hidupnya beberapa waktu lagi *really surprising*. Semuanya jadi begitu dekat dan begitu..nyata (?)

Namun ada satu yang mencuri perhatian saya. Postingan, siapa tadi ya, ohya, Ayunina Rizki, teman saya  lintas jurusan memposting sesuatu yang hmm katakanlah begitu mencuri perhatian saya, melebihi si acara sakral tadi. Sebuah link untuk mengikuti lomba, dan berhadiah JALAN-JALAN ke Tanjung Puting, Kalimantan. Apaan tuh Tanjung Puting? Kayak menarik! Dengan sigap langsung saya klik weblink tersebut. Ternyata itu adalah lomba dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang bertajuk …yah apalah itu, dengan iming-iming hadiah jalan-jalan, darah saya pun berdesir. Jalan-jalan. Ke alam. Kyaa. Hadiah jalan –  jalan hanya diberikan untuk 5 orang beruntung dari 13 ribu peserta yang ikut, dan saya yakin hingga deadline tgl 17 September nanti, jumlah itu akan naik 2 kali lipat, atau mungkin 3 kali lipat? Terserah, yang penting coba dulu. Ga ada yang tersinggung kan? Ya kalo salah mohon maaf lahir bathin deh😛

Setelah melewati prosedur ini itu, barulah saya berhadapan dengan pertanyaan pertama dari kuis tersebut. Pertanyaan pertama “Kapan situs Patiayam di Pati, Kudus, diresmikan menjadi cagar budaya?” terdapat beberapa pilihan jawaban disana.

Patiayam? Naoon? Ati ayam tau saya. Enak. Tapi kalo Patiayam?…mm… dan mata saya mencoba membaca tiap pilihan, dan, aha, terdapat tulisan ini di bagian agak bawah “untuk mengetahui jawaban, silakan klik link berikut”

Bah. Dikasi taunya pulak jawabannya. Ini sih namanya emang disuruh memperkaya khazanah pariwisata Indonesia. Oke. All right. Saya suka kok. Apapun demi jalan-jalan. Jalan-jalan. Ooooh❤❤

Dan..setelah kira-kira 5 menit menekuri beberapa paragraph dari artikel jawaban,  saya jadi tau kalau Patiayam itu adalah sebuah situs purbakala yang menyajikan fosil fosil manusia purba serta kawan-kawannya. Di artikel itu juga dikatakan bahwa fosil yang berada di sana mencapai 1300 buah dan selalu dijaga keamanannya oleh pemerintah setempat.

Fosil purbakala ya..menarik.. tiba-tiba pikiran saya melambung jauh ke beberapa bulan silam. Sebuah situs yang mirip itu pernah saya kunjungi bersama Bhup’s Adventure. Goa Pawon di Padalarang. Ya. Tidak salah lagi, sebuah situs purbakala yang hitungannya berada di tengah kota Bandung.

We are the Bhup’s Adventure. Saya, Dede, Pipeh, Tami, Wilman dan Randa. Rencana ke Goa Pawon ini sudah kami wacanakan dari hari sebelumnnya. Iya. H-1. Deket sih, jadi persiapannya juga ga rebek J Di sana juga terdapat fosil manusia purba. Cuma satu kalo saya tidak salah ingat. Berada di sebuah lobang goa yang tinggi dan gelap. Fosil itu dilindungi sebuah jerejak besi, sehingga terjaga keamanannya, setidaknya begitulah kata penjaga Goa Pawon tersebut. Namun ternyata fosil yang berada di Goa Pawon itu adalah replica, fosil aslinya ntah dimana sekarang, saya lupa. Di museum Geologi apa ya? Aduuuh susah ya kalo pelupa kieu. Padahal si bapak penjaga goa itu bercerita panjang lebar tentang goa-nya. Ga ada notulensi sih waktu itu, jadi kan lupa x(

Sedikit saya paksa ingatan saya keluar, mudah-mudahan tidak salah. Batu batu yang ada disana dulunya adalah karang. Bentuknya kalo diperhatikan baik baik, memang mirip karang. Berongga-rongga dengan bentuk yang khas. Menujukkan bahwa mereka adalah saksi bisu saat Bandung masih digenangi air. Ya, Bandung jaman dahulu adalah sebuah badan air yang besar, ntah danau, ntah laut. Yang pasti bukan selokan😛

Siapa sangka ketika badan air itu merembes airnya, cekungan ini berubah menjadi tempat yang oke sekali, sampe-sampe orang Belanda menjuluki Bandung adalah Paris. Paris Van Java, dari sanalah istilah itu popular. Sejuk dan memang dijadikan sebagai kota peristirahatan. Belanda pun memperkirakan bahwa maksimal penduduk yang layak menduduki Bandung hanya 800.000 jiwa saja. Apa yang terjadi? Pesona Bandung yang begitu memikat ini meledakkan jumlah penduduk, tahun 2012 ini sudah berkembang menjadi 5 kali lipatnya. 4juta orang bok. Bandung penuh sesak. And it will increase and increase for years later I guest. Who knows?

Saya ingat, perjalanan menuju Goa Pawon terbilang cukup mudah. Padalarang yang bisa diakses melalui jalan tol membuat perjalanan kami semakin singkat. Cukup 45 menit dari Bandung, kalo tidak macet. Karena Randa yang sangat amat hati hati menyupir, perjalanan terasa lebih panjang. Ditambah lagi kami kelewatan, jadi harus putar balik. Dan akhirnya alhamdulillah nyampe. Kalo ga salah udah jam 2-an deh. Kenapa siang banget? Iya, soalnya ke kondangan orang dulu, terus kena macet, pake putar balik pula. Trus dari kondangan langsung ke goa? Iyalaah, lumayan kan ngisi perut gratis sebelum berpetualang, itu peluang emas namanya, adventurer harus bisa dong melihat berbagai kesempatan, yang emas, yang gratis. Haha.

Mobil diparkir di depan pekarangan rumah orang. Dan untuk mencapai mulut goa kami diharuskan tracking sepanjang 500 meter –katanya- . Nah ada satu rombongan lagi yang barengan kita kesana. Seorang bapak yang menggendong anak balita, ditemani beberapa orang wanita. Kayaknya istri dan adik adik istrinya deh. Riweuh banget. Yang bapak masih pake baju batik ,yang wanita pake wedges plus kerudung necis –wah ini sih namanya beneran habis kondangan- .

Kenyataan memang selalu terasa lebih pahit. Jalan sepanjang tracking nanjak bos, lumayan berbatu berbatu, jadi harap pake sandal gunung ya,bukan sandal cantik. Pipeh nih yang bener. Sandal gunung. Lumayan tadi kalo pake sepatu kets kayak Tami.  Ya mana saya tau bakalan ada tracking nya. Sepertinya sering sekali saya salah alas kaki untuk agenda jalan-jalan, just like in Curug Malela ago. Haiyaah. tapi saya selamat kok, ga ada kecelakaan berarti selama tracking. Gimana ya nasib si mbak berwedges? Saya sempat dengar rintihan aduh-aduh,satu dua kali. Mudah-mudahan ga keseleo ya mbak..

Kami sempat berjalan berbarengan saat tracking, berbincang sebentar lantas berpisah di pertengahan. Bapak tadi ternyata dari Jakarta, dan memang benar adanya, mereka habis dari kondangan. Kami agak tertawa mendengarnya sambil malu malu mengaku “Kita juga abis dari kondangan pak” kata Wilman. Tapi kita sempet ganti kostum dulu tadi. Sesaat saya menyesali pergantian kostum tadi, harusnya ga usah ya, kan banyak temen ini, batin saya dalam hati. XP

Setelah kira” setengah jam tracking, sampailah kami di pekarangan tempat wisata Goa Pawon tersebut. Tidak ada loket tempat menjual tiket karena memang masuk kesini gratis. Nahloh, emas kedua. Kita cuma disuguhi buku tamu dan ditawari seorang guide. Tawaran kami terima, guide ini yang menjelaskan sejarah Goa dan situs purbakalanya sambil berkeliling. Si bapak guide ini ternyata juga adalah penanggung jawab resmi si Goa Pawon, kalo pake istilahnya sih, juru kunci Goa Pawon. Woaah. Disini kami kembali bertemu dengan si Bapak Batik, kami reflex mengangguk sopan. Dan saya sekilas melihat si mbak yang tadi pake wedges kini bertelanjang kaki dan menenteng sepatunya dengan tangan kiri. aimakjang..

Here we go

Goa Pawon diambil dari kata Pawon yang artinya kelelawar. Di dalam sini memang hidup ratusan makhluk hitam menggantung tersebut, that’s why baunya juga agak menyengat di sekitar mulut Goa. Tingginya lumayan, 30 meter mungkin. Goa ini gelap. Yaiyalah, tapi ga terlalu dalam, sebentar saja kita sudah tiba di ujung goa dan melihat fosil purbakala yang tadi saya certain di atas. Sebenernya kita bisa melakukan aktivitas wall climbing kalo mau, kata si Bapak juru kunci. Tapi karena kedatangan kami yang mendadak, serta hari sudah sore, kegiatan itu pun urung kami lakukan. Ihiiks, padahal kan pengeen. Yah belon rejeki. Mungkin ntar kalo saya udah nyampe di Kilimanjaro. Amin.

Goa Pawon, banyak yang asing dengan situs purba satu ini, mungkin karena memang tidak terlalu besar sehingga jarang menjadi tujuan wisata para pelancong, orang Bandung sekalipun. Saya sendiri pun tau situs ini dari kuliah Geowisata yang saya ikuti di kampus. Kuliah dari jurusan Teknik Geologi ini membahas tempat-tempat wisata menarik, dari sudut pandang geologi tentunya.

Yang membuat miris adalah, Goa Pawon ini terletak dekat dengan Pegunungan Citatah yang merupakan gunung batu putih, atau kapur. Banyak penambang yang menggerus gunung ini untuk meraup keuntungan. Tidak disangkal, masyarakat sekitar sana pun banyak yang berprofesi sebagai kuli di area penambangan. Walaupun merusak alam, tapi masyarakat sekitar mengandalkan ekonomi keluarganya dari penambangan itu. Sebuah kenyataan yang ironi. Mungkin karena itu, situs ini tidak banyak dikenal.

Grand design Goa Pawon sebenarnya sudah ada, sudah dibuat dari tahun 1999 (iya gitu? Kenapa saya pelupa sekali seh?) pokoknya sudah lama. Bahkan ada miniature situs wisata Goa Pawon di sebuah saung yang berada di sekitar sana. Namun karena permasalahan ekonomi, ntah uangnya kurang atau gimana, bapaknya cerita panjang lebar -saya lupa maafkan -,- pembaharuan situs Goa Pawon belum terlaksana sepenuhnya. Pekarangan goa menurut saya sudah bagus, disediakan toilet dan musola umum. Ada saung juga. Tempat parkir juga tersedia untuk pengendara sepeda motor. Jalan tracking yang tadi itu bisa dilewati motor, ga bisa mobil, karna jalannya setapak.

Kurang publikasi saja mungkin. Situs ini lumayan bisa menjual kok. Kami pun menyudahi petualangan kami. Memberikan upah sewajarnya kepada Bapak Juru Kunci. Sepanjang tracking kembali, kami menemukan pedagang buah guava. Memang sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan pohon gava di kiri kanan. Kayaknya lagi panen, mampir sebentar. Dan, akhirnya saya menawar. Sekilo berapa pak? Yang ditanya malah diem. Dan ngomong bahasa sunda yang saya nggak ngerti sama sekali. Waduh. Udah gini biasanya saya pake bahasa isyarat aja nih. Akhirnya si bapak menangkap maksud saya. Dia menyerahkan sebuah plastic untuk diisi. Setelah puas mengisi plastic, si bapaknya bilang. Isi aja sampe penuh. Saya jawab, ga usah pak segini aja, cekap. Si bapak bilang lagi, ambil aja sepuasnya. Lima ribu. Waah. Emas ketiga nih. Kalo di pasar biasanya kan 6ribuan sekilo, lah ini 5ribu sepuasnya. Tambah plastik dong pak *kesempatan*

Tracking pulang terasa lebih singkat dibandingkan tadi. Karena jalannya turunan sekaligus sambil mengunyah guava yang saya beli. Banyak banget. Berat. Diangkatin Dede Wilman Randa bergantian. Kami cewe-cewe? Ya nggak lah,hohohoho. Daripada capek ngangkat-ngangkat, ya dimakan aja. Manis. Seger. Kayaknya emang baru dipetik dari pohon. Dicuci nggak? Haha udah lupa tuh, gosok gosok aja dikit pake tangan. Ga usah steril steril amat lah, di hutan ini. Kami pun cekakak cekikik sambil bercerita kejadian hari itu. Ga keluar banyak duit. Dimulai dari kondangan, makan siang gratis, ketemu rombongan kondangan juga di goa, ga bayar tiket, sampai guava yang super murah ini. 3 emas sekaligus dalam sehari. Harta karun bagi kami para adventurer.

ini nih guava 5rb sepuasnya

Satu yang membuat kami semua miris, keadaan Kars Citatah yang terus ditambang. Lama – lama bisa habis itu, dan lama-lama Goa Pawon tinggal nama aja. Habis ditambang orang. Itu peninggalan purbakala yang sangat berharga loh, wajib kita lestarikan dan pertahankan. Kapan lagi nemu situs purbakala di tengah kota Bandung? Hal yang sama pula sering digaungkan dosen Geowisata saya di dalam kelas. For those who wants to go there, saya saranin dateng pagi deh, jam 9 udah nyampe lokasi. Jadi masih ada waktu buat wall climbing. Terus pake kostum yang nyaman, alas kaki kalo bisa sandal gunung.  Kalo takut bau, buat jaga-jaga bisa bawa masker. Kalo takut gelap? Menurut saya ga usah pake senter karena goanya pendek, tapi kalo mau aman ya bawa aja. Kalo takut hantu? Hmm, banyak banyak berzikir deh di dalam sana. Seingat saya sih nggak ada penampakan yang aneh aneh. Kalo takut ga lulus kuliah Geowisata? Ya makanya belajar yang rajin, jangan bolos *ganyambung* Duit? 10 ribu juga cukup. Easy.😉

Back to the very fiiiiirst topic, situs Patiayam. Wanna try De, Peh, Tam, Man, Ran?

And..Time Up ! “Sana-sana” usir Nadia. Saya yang sedari tadi asik memandangi laptop agak terusik. “Mo ngerjain tugas nih” usirnya lagi. Hah? Setengah jam saya berlalu begitu cepat, padahal saya belum menjawab satu pertanyaan pun dari kuis Tanjung Puting tadi. “Setengah jam lagi pliiis”ujar saya memelas. “Aaah nggak nggak, cepet, awas” sanggah Nadia tanpa ampun.  Aiiih, naaaaaad. Tadi saya nulis apa? Sweet? Saya tarik lagi deh, huh XP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s