Borneo

Mengawali bulan juli ini, saya ditugaskan melakukan survey ke Kalimantan. Ow Yeah! Allah mendengar doa saya, this is my first time to fly there *happy*

Ceritanya disana nanti saya bakal ke Kalimantan Tengah, in the heart of Borneo, menuju Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) yang beribukota Pangkalan Bun. Survey ke TPA yang ada disana. Setelah kepo-kepo objek wisata, Pangkalan Bun in ternyata deket banget sama laut, which mean deket pantaiii, namaya Pantai Kubu. Tapi ada satu objek lagi yang dijadikan destinasi favorit orang-orang, yaitu Tanjung Puting. Dimana tempat itu bisa dicapai sekitar 3-4 jam dari Pangkalan Bun menggunakan kapal. Konon, disana ada penangkaran orang utan dan udah terkenal seantero dunia, makanya yang dating kesana pun banyakan bule.

Kalimantan Tengah, dengan ibukota Palangka Raya. Many people write it as Palangkaraya (include me in previous), but the right written is with spasi between Palangka and Raya, so it written Palangka Raya. Sip. Kota ini jaman dulunya pernah mau dijadikan pak Sukarno sebagai ibukota negara, karena posisinya yang sangat strategis. Tadinya saya pikir udah berada di waktu lain (I mean WITA), but it still the same with Jakarta, tetep Waktu Indonesia Barat (WIB) ternyata. Haha, mainnya kurang jauh ya, semoga ada kesempatan ‘main’ ke tempat yang lebih jauh lagi ^_^

Palangka Raya punya banyak potensi wisata, salah satunya adalah :

Susur sungai Kahayan. Ini sungainya di tengah kota, susur sungainya bisa seharian sih, soalnya diajak naik kapal sampe masuk ke hutan-hutan. Katanya bisa liat orang utan, biawak dan satwa lainnya selama susur sungai. It sounds interesting, dan harganya cuman 75ribu. Tapi..karena saya kesini dalam rangka kerja, ga mungkin saya ikut susur sungai yang ngabisin waktu seharian. Oke skip (dengan hati teriris).

IMG_0386

Kerjaan saya berhubungan erat dengan Dinas Pekerjaan Umum, makanya habis dari bandara langsung menuju kantor PU. Deket loh, cuman 15 menit dari bandara. (gambar kantor PU)

Selesai dari PU, kami memutuskan untuk langsung menuju Pangkalan Bun, it takes almost 10 hours by car. So, we have to go as soon as possible. Sebenernya ada pesawat kecil yang bisa menerbangkan kami dari Palangka Raya menuju Pangkalan Bun, namun ntah karena alasan apa, maskapai tersebut tidak beroperasi lagi sekarang. Okey here we go, 10 hours from now

Dinas Pekerjaan Umum Kalteng >> si bapak ini minta difotoin, oalah paak :D

Dinas Pekerjaan Umum Kalteng >> si bapak ini minta difotoin, oalah paak😀

Sebelum berangkat, isi perut dulu. Palangka Raya ini banyak ikan, maklum sungainya gede pisun (Sungai Kahayan), jadi ikannya pun banyak dan gede-gede

Ini namanya ikan jelawat (?). sambelnya asem, katanya sih di PR ini udah banyak transmigran dari Banjarmasin, dan sambel asem itu khas nya orang Banjar. Ooo.. rasa ikannya? Ga usah ditanya, ENAK!😀

IMG_0266

Selama perjalanan, kita mostly melewati hutan, kebun karet, kebun sawit. Jalanan mulus, tapi sepi. Dan gelap. Trus saya nanya : ini jalanan aman pak? . dia malah balik  nanya : maksudnya aman dari tindak kriminal atau apa nih? Lah saya kan bingung. Trus dia ketawa, aman kok katanya. Jarang ada tindak kriminal disini, lebih banyak ga aman karna banyak makhluk gaib. Nah loh, mulai deh doi cerita setan. Bapak supirnya nunjukin daerah-daerah angker gitu.  Sama nyerita-nyerita kejadian aneh tentang tentang gitu lah. Perjalanan diisi sama cerita cerita mistis deh. Uma’ay Kalimantan ni..

 

Jengah sama cerita si Bapak, saya mulai ngeliat ke langit, and I was surprised! Bintangnya banyak banget, berserakan! Dan ga sadar udah buka jendela aja sambil ngelongi ke atas. Yes. Banyak banget bintangnyaaaaa, duhai, mana bisa liat beginian di langit Bandung atau Jakarta. Mungkin karena Kalimantan ini belum banyak polusi udara atau polusi cahaya ya. Jadi bintangnya ..ya Allah..bertaburan kayak ketombe, dimana mana, Subhanallah. Terakhir liat beginian pas saya lagi di ketinggian 1000-an mdpl, tepatnya di Tegal Alun – Gunung Papandayan. Pemandangan kaya gini ternyata masih bisa ditemui di tempat yang jauh lebih rendah ya –sepanjang jalan Palangka Raya-Pangkalan Bun.

Di perjalanan juga kita ngelewatin suatu tempat penangkaran orang utan. Namanya Arboretum. Pengelolanya orang Denmark. Niat hati mau mampir sebentar urung. Tutup. Yaiyalah kan udah malem. Hati saya kembali teriris iris T.T

Perjalanan yang panjang membuat kami harus bermalam dulu di Sampit- kabupaten Kotawaringin Timur. Masih ada sisa 5 jam perjalanan lagi, dan akan dilanjutkan esok hari setelah subuh. Di Sampit ini.. pernah terjadi peristiwa berdarah-darah beberapa tahun silam. Perang antara suku Dayak dan Suku Madura. Ntah bagaimana asal muasal ceritanya, orang Dayak membantai habis orang Madura yang hidup di Sampit. Pembantaiannya pun terbilang cukup menyeramkan ya. Mandau (senjata khas suku Dayak) nya bisa terbang sendiri dan (ah maaf) memenggal kepala orang Madura! Sadis..

Keesokan harinya perjalanan dilanjutkan,  5 jam lagi menuju Kobar. Such a long long way to go yah. Kita sempet mampir ke sebuah warung buat sarapan. Menu yang saya pilih : ikan patin sungai. Ini juga ENAK! Juga ada ikan lainnya, namanya ikan saluang. Nah, ikan saluang ini ada cerita mistisnya juga nih, buset kan lagi makan aja ada cerita setannnya. Konon dengan membakar ikan ini di waktu tertentu, bisa ‘memanggil’ arwah gaib. Lah terus saya nanya kan, ntar yang makan pada kesurupan dong pak. Dia dengan santainya aja menjawab : ya tidaklah, sambil terus mengunyah ikan saluang- nya. Haha. Freaky freaky yaya.

ikan saluang

ikan saluang

Sepanjang jalan perjalanan pemandangan yang sama kembali terbentang, hutan, kebun sawit, kebun karet. But this time ga ada bintang, jadi ga bisa star-gazing deh.

Sampai di Kobar – masih pagi sekitar jam 10. Cuacanya ga berbeda dengan di Palangka, anget anget gitu. Tanpa membuang waktu, survey segera dilakukan ke lokasi  dan urusan kami pun beres sekitar jam 4-an, masih ada sisa pekerjaan yang harus diselesaikan di Palangka, it means 10 more hours trip by car. Haiyahh

Sebelum meninggalkan Pangkalan Bun, kita makan dulu di pinggir Pantai Kubu. Pantai nya bagus, pasir putih, dan ada jembatan kayunya. Kalo liat laut tuh rasanya pengen basah-basahan kan, nyebur nyebur dikit, tapi lah ya mana mungkin dong, saya ke sini bukan dalam rangka wisata soalnya. Dan si bapak nyeritain tentang Tanjung Putting itu, huahh, saya udah berada di tepi pantai, siap melaut ke Tanjung Putting, tapi lagi-lagi gabisa. I’m on duty, not holiday. Nanti kalo kesini lagi jangan dalam rangka kerja, hibur si Bapak. Aamiin, semoga ada kesempatan balik lagi kesini yah. Hiks. Maaf Tanjung Puting,ini bukan saat yang tepat untuk kita bersua. Saya meninggalkan Pantai Kubu dengan hati pilu. Tapi lumayanlah seengganya kesampean liat pantai *menghibur hati*

IMG_0292

IMG_0301

 

Perjalanan pulang ke Palangka terasa lebih cepat daripada pas perginya, jam 2 dini hari sudah tiba di Kota. Setelah beristirahat di hotel, pada pagi harinya kami bergegas menuju kantor PU (lagi) menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai. Karena jadwal pulang adalah besok, maka pekerjaan harus selesai di hari ini, dan Alhamdulillah lancar, jadi ada sisa waktu buat sightseeing Palangka Raya.

Sisa waktu dipakai untuk melihat Museum Balanga, sebuah museum etnis suku Dayak, suku asli pedalaman Kalimantan. Masuknya gratis, cuman ada sumbangan seikhlas hati aja. Disana juga ada mbak-mbak guide nya yang nerangin tentang benda-benda disana. Salah satunya : ini

IMG_0363

Kalo ga salah namanya mining. Fungsinya buat menangkap ikan. Bentuknya mirip perahu, cara memakainya ntar ditaro aja di permukaan sungai, maka ikan akan dating dengan sendirinya. Kok bisa? Itulah ada mantra-mantranya juga. Di ujung mining ada patung kayak gini

IMG_0401

Saya lupa namanya apa, nah si patung ini konon bisa berbicara dengan ikan, sehingga ikan ikan akan masuk ke dalam mining tanpa diberi umpan apapun. Uwow *koprol*

Juga ada benda-benda peninggalan perang Suku Dayak dan Suku Madura di Sampit, plus darah-darahnya (kata mbak guide). Sayang ruangan yang berisi benda benda itu terkunci, jadi ga bisa liat deh..

Selanjutnya ke pusat oleh-oleh palangka raya. Yang khas dari sini adalah kerjainan tangan yang terbuat dari getah nyatu. Getah ini mirip getah karet, tapi tidak berbau, namanya getah nyatu. Saya beli beberapa buat kenang-kenangan.

Yang menarik lagi di tengah kota ada Bundaran Besar, kata bapak sopirnya sih itu bunderan terbesar di Indonesia. Ada di Palangka Raya, si Bunderan Besar. Emang gede banget sih, di tengah bunderan ada patung berdiri berjejeran gitu. Ada sekitar 9-10 patung yang berdiri menggunakan baju pejuang dan baju pramuka (?). Serta ada 1 patung yang berdiri di paling atas sambil mengacungkan bamboo runcing, layaknya seorang komanada. Nah ada cerita hantunya juga nih si patung komandan, orang-orang sana bilang patung komandan pernah terlihat lagi duduk santai sambil ngerokok. Nah loh. Bukan di tengah hutannya aja yang banyak ‘cerita’, tapi juga di tengah kotanya. Ckck

Makan malam terakhir di Palangka Raya, kita diajak makan sea food. Coba tebak apa? KEPITING! Karna udah kalap ga sempet difoto. Rasanya? Pokoknya wajib banget kesini buat orang orang yang cari Sea Food di Palangka Raya. Sepanjang jalan Yos Sudarso, pilih aja yang manapun, jejeran warung sea food pinggir jalan.

Dan akhirnya…Walau gabisa ke Tanjung Puting, walau 2x ngelewatin Arboretum dan gabisa mampir, walupun ga berkesempatan susur sungai Kahayan..saya senang kok. Seengganya diganti sama cerita-cerita mistis *meeeh* , ikan saluang, star gazing sepanjang jalan, Pantai Kubu, gantungan kunci getah nyatu, dan kepiting asam manis tadi malam! Alhamdulillah ^_^ This ini my first trip to Borneo, and I enjoyed it.

IMG_0392

4 thoughts on “Borneo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s