Kelu(h)

Dari page nya bang Tere Liye, penulis sensasional dari negeri kita *ceritanya nge-fans*
Siapa tau bisa jadi renungan ramadhan :p

*Tentang mengeluh, mengeluh dan mengeluh

Saya sering mengeluh. Satu dua, ketelepasan mengeluh, bergegas menghela nafas, menyesal kenapa begitu mudahnya keluar. Tiga empat, tidak sengaja mengeluh, tapi tidak menyesal, merasa baik2 saja, masa bodo. Lima enam, bahkan merasa berhak sekali untuk mengeluh, sengaja ditunjukkan–termasuk seperti sengaja ditunjukkan pada yang maha melihat.

Saya sering mengeluh, jika hari-hari sejak saya lahir ditandai dengan contreng merah, hingga detik ini, hari ini, maka rasa2nya tidak ada hari yang lolos dari tanda merah. Itu berarti hampir setiap hari sy mengeluh. Mulai dari urusan remah-remah, seperti sesuatu terlambat, menunggu, sesuatu tidak beres, sesuatu tidak selesai, hingga urusan yang lebih serius macam kesehatan, keran rezeki, kesempatan, takdir, dsbgnya. Jangan tanya tentang koneksi internet yang lelet, cuaca panas, gerah, cuaca dingin, hujan, itu favorit keluhan. Trending topic dunia soal mengeluh.

Jika hati saya sedang tenang, kalem. Berpikir lebih jernih, mengingat2 keluhan itu rasa2nya seperti tidak percaya. Bagaimana mungkin? Bukankah kita semua tahu, mengeluh tidak pernah menyelesaikan masalah. Itu mungkin benar, mengeluh bisa menyalurkan ekspresi frustasi, konon katanya bisa membuat lebih lega, tapi jelas itu bukan bentuk penyaluran yang positif. Karena sama seperti orang marah, boleh jadi benar, nonjok orang di sebelah bisa membuat lega, marahnya tersalurkan, tapi jelas, itu bukan bentuk penyaluran yang baik. Malah tambah panjang. Tapi kalau sudah paham mengeluh tdk menyelesaikan masalah, kenapa kok masih saja mengeluh?

Kalau dipikir2 lebih jauh, bukankah semua orang benci dengan teman/tetangga/saudara yang suka mengeluh. Bete bahkan baru melihat mukanya, tuh si tukang ngeluh datang. Tapi kenapa, kita yg benci pengeluh, juga suka mengeluh? Urusan ini kenapa jadi membingungkan sekali. Bukankah kita menyadari betul bahwa di luar sana, boleh jadi ada orang yg lebih susah, sulit, tapi mereka baik2 saja, tidak mengeluh. Dan sebaliknya bukankah, di luar sana, ada orang2 yg justeru kita inginkan posisinya (lebih sukses, lebih kaya, lbh baik), ternyata juga tetap mengeluh. Lantas kenapa kita mengeluh utk mencapai posisi mereka hanya utk kemudian mengeluh lagi. Kita semua tahu itu. Tapi kenapa tetap mengeluh? Aduh, rumitnya.

Sayangnya, saya tidak tahu banyak jawaban atas kebiasaan mengeluh.

Saya juga berada satu gerbong besar bersama orang2 yg suka mengeluh. Maka semoga, gerbong saya ini menuju ke arah yg lebih baik, berisi penumpang, yaitu orang2 yg berusaha utk setiap hari memerangi kebiasaan mengeluh. Setiap hari terus berlatih sungguh2 menghilangkan kebiasaan tersebut. Menyenangkan berada di gerbong belajar yg sama, karena jika kita lupa, ketelepasan, ada yg buru2 mengingatkan. Atau dalam titik ekstrem, jika kita merasa berhak mengeluh, berusaha menunjukkan keluhan betapa susahnya hidup kita, maka ada teman yg buru2 menasehati sambil tersenyum.

Mungkin, hanya dengan cara itulah kita bisa mengalahkan tabiat mengeluh.

-Tere Liye-

Tanggapan fans :
buat mengenyahkan si pengeluh itu, cukup dengan selalu berpikiran positif. selalu tersenyum. dan bersyukur. #eaa. padahal mah pas sebelum baca ini lagi pengen ngeluh tentang kerjaan kantor. oalah duiiin , insap dong:\

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s