Game level 3, day 10

Kami setuju untuk saling mengingatkan dalam Hal sedekah. Salah satu contoh yangpaling sederhana adalah mengurangi kebiasaan menawar (Catatan buat saya) saat belanja di pasar. Biasanya suka minta kurangin seribu atau 2rb, padahal yang dagang ibu2 sudah separuh baya dan jualan sayur. Rasanya ga tega lagi, Ibu ini kan juga punya keluarga di rumah ya Mudah2an Tanpa menawar bisa jadi ajang sedekah.

1 lagi yang mau dibiasakan adalah sedekah ke Petugas pom bensin, kelebihan 2rb-5rb udah deh kasih aja ke petugasnya. Toh saya kalau Isi bensin (mobil) biasanya di atas 100rb, mesti membiasakan diri supaya gajadi orang pelit! Fight!

Terimakasih suami sudah mengingatkan

#harike10

#gamelevel3

#kitabisa

#kelasbunsayiip3

Advertisements

Game level 3, hari 9

Lanjut Dari postingan selanjutnya tentang mendermakan harta di saat lapang dan sempit. Menurut ustad di pengajian yang saya datangi mendermakan sesuatu saat lapang adalah lebih sulit daripada saat sempit. Sesaat saya agak bingung. Apa Iya saat lapang lebih sulit? Sepertinya saat sempit lah yang sulit ya kan?

Ilustrasi dari ustad adalah spt ini :

Jika punya uang 10rb, mengeluarkan 1rb tentu mudah. Begitu pula jika punya uang 100rb, maka mengeluarkan 10rb tentu tidak sulit kan? Namun jika mempunyai 10 juta atau 100juta, maka mendermakan 10% nya yaitu 1 juta dan 10 juta agaknyaaa agak mikir2 ya…10 juta kan bisa buat ini itu bayar ini itu😅😅

Nahloh

Saya sampaikan begitu juga Sama suami tapi doi agak belum yakin sampaiiii kemarin saat kami berdua ke banyuwangi sekarang dan tidak mendapat Tempat untuk menginap (Karna kemalaman, tidak ada homestay terdekat dan sudah kelelahan) kemudian kami ditawarin menginap Oleh Pak RT saat sedang Singgih di mush alla untuk shalat maghrib. Rumahnya sangat sederhana Namun cukup bagi kami, beliau (yang members tumpangan menginap) memperlakukan kami dengan sangat baik. Kami disuruh I sarapan dan diberikan Oleh Oleh buah naga Dari kebunnya. 

Pak RT tinggal bersama anak dan cucunya, Pak RT dapat penghasilan Dari penjualan buah naga tapi itu pun tidak banyak. Anaknya ber profesi sebagai pedagang keliling. Namun keluarga mereka sangat humble dan mau menampung kami! 

Mereka adalah contoh nyata orang yang bertakwa. Kemudian se lepas Dari Sana suami nyeletuk: kayaknya Bener deh kalau dalam keadaan sempit lebih mudah berbagi. Hehe Mudah2an kami pun tertular semangat kedermawanan Pak RT dan keluarga, bisa berbagi di saat lapang dan sempit. Aamiin


#gamelevel3

#kelasbunsayiip3

#harike9

#kamibisa 

Game level 3, hari 8

Pulang Dari pengajian saya membawa bekal mengenai cek kadar ketakwaan seorang muslim. Takwa itu mempunyai defenisi mengikuti aturanNya dan menjauhi laranganNya. Untuk mengecek kadar ketakwaan se seorang yerdapat parameternya di Al Quran surah ke 3 Ayam 133.

Di surat tersebut dicantumkan bahwa orang yang takwa syarat nomor 1 nya salah dermawan / tidak pelit dalam keadaan lapang dan sempit

Saya mendiskusikan ayat ini dengan suami dan mengukur kadar ketakwaan kami masing2 Dari parameter dermawan ini. Kami berupaya untuk selalu mengeluarkan sedekah setiap hari dan mengingatkan satu Sama lain. Untuk peningkatan kecerdasan spiritual kami berdua.

#gamelevel3

#harike8

#kelasbunsayiip3

#kamibisa

Game level 3, hari 7

Untuk melatih SQ kami, saya dan suami pun punya komitmen untuk Tilawah bersama di Akhir pekan. Dengan tilawah bersama kami bisa saling mengoreksi bacaan masing2. Kami juga membaca arti Dari ayat yang kami baca..
Yang kami lalu kan untuk memperkuat Ikatan kami dan membangun kebiasaan yang baik

Game level 3, day 6

Halo…

Sekarang selain project dapur, kami juga punya project spiritual yg mau dilakukan bersama (me and husband)

Jadi tiap subuh kami shalat berjamaah di rumah, biar makin deket aja gitu, deket Sama Sang Pencipta

Udah segitu aja hehe

#gamelevel3

#kelasbunsayiip3

#harike6

#kitabisa

Game level 3, day 4


“Ini sisa makanan buang mana yang”

“Buang di Takakura ya”

Setiap hari kami membiasakan diri buang sampah organik ke keranjang Takakura. Keranjang Takakura bisa menampung 1kg sampah organik per harinya. Jangan takut penuh karena sampah organik akan segera menyusut di besok hari dan jangan takut bau karena proses pembusukan kan diredam Oleh media (kompos dan tanah). Malah terkadang bisa Wangi kalau memasukkan kulit jeruk atau Kulit mangga. Sebagai kepedulian terhadap Lingkungan, yuk ah!

*secuplik percakapan tentang kebiasaan baru kami buang sampah organik ke Takakura 

*melatih kebiasaan dan kedisiplinan kami juga kecerdasan emosi kami

#tantanganharike4

#kelasbunsay3iip

#kamibisa

#gamelevel3

Game level 3, day 3

Halooo masih dalam project Pejuang Dapur… selain nyobain berbagai macam menu, saya dan suami juga berkomitmen mengolah sampah organik kami sendiri dengan menggunakan komposter takakura. Caranya sangat mudah, yautu sampah organik dan anorganik dipisahkan, sampah organik dimasukkan ke keranjang Takakura dan yg anorganik masuk tong sampah. Sampah organik meliputi sisa sisa makanan dan sampah sampah saat memasak (yang dapat membusuk spt : barang sayur, Kulit bawang, tulang Ayam, dll). Sedangkan sampah anorganik berupa plastik, bungkus kemasan, kardus, dll.

Pemisahan sampah secara langsung Dari dapur otomatis dapat melatih sikap disiplin dan juga melatih kecerdasan emosi dalam Hal mencoba tantangan baru dan keluar Dari zona nyaman. Selama ini kami tidak terbiasa memilah sampah, sehingga diharapkan kebiasaan baru ini dapat menjadi habit yang baik.

Kami melakukan ini (pemilahan sampah dan pemakai an komposter takakura) adalah untuk mengurangi jumlah sampah yg kami Buang, juga sebagai salah satu Upaya ikut melestarikan Lingkungan. Juga agar sampah tidak berbau saat dibiarkan dalam waktu lama. Biasanya sampah menjadi bau Karna kandungan sampah organik yang membusuk menimhulkan aroma yg tidak sedap. Dengan menggunakan komposter takakura, sampah tidak menjadi bau, dan malah dapatdimanfaatkan kembali sbg kompos.

Hasil Dari keranjang takakura sendiri adalah berupa Pupuk kompos yang dapat kami manfaatkan utk beberapa tanaman sayur yang kami tanam di halaman

Komitmen ini sudah mulai kami jalan kan sejak 1 minggu yang lalu, harapannya kamu dapat mengajak tetangga2 melakukan Hal yang Sama sebagai syari bentuk kecintaan terhadap lingkungan ^^

#tantanganhari3

#kelasbunsay3iip

#kamibisa

Game level 3, day 2

Haloooo 

Masih Dari Project “Pejuang Dapur”

Hari ini menunya sop sayuran, Ayam goreng, tempe goreng dan sambal kecap

Masaknya sendirian Karna mas pulang agak telat..biasa doi yg bikin sayuran hari ini Ak semua. Alhamdulillah rasanya udah rada terkontrol.

Kalo kemaren ditanya tentang rasa, masnya jawab “enak” tapi muka kecut, hari ini doi bilang enak dgn muka yg juga enak😆😆😆 bahagiaaaa💋

Mudah2an bisa konsisten daaannn mencoba resep2 baru lainnya! Tantangan baru! Yeah!!!

#gamelevel3

#kelasbunsay3iip

#kamibisa

#tantanganhari2

Game level 3, day 1

Pada game level ini saya akan melibatkan suami sebagai partner belajar. Game level 3 adalah mengenai melatih kecerdasan. Kecerdasan yg saya pilih adalah Kecerdasan Menghadapi Tantangan sekaligus Kecerdasan Emosi. 

Sebagai pasturi baru Ada banyak Hal yang mesti diadaptasikan, salah satunya adalah urusan perut. Melatih kecerdasan ini akan kami praktikkan padaaa belajar masak 😁. 

Sebelum berubah status jadi istri saya terbiasa dimasakin, heuuu, jadi setelah pindah ke rumah baru, tinggal berdua doang ama suami,  jauh Dari ortu, otomatis mesti beradaptasi dan keluar Dari zona nyaman.

Berubah dari tinggal Makan doang menjadi orang yg bertanggung jawab (halah!) sbg ahli gizi keluarga. Mulai Dari belanja ke pasar, belajar nawar, masak, dan membereskan sisa masakan.. project masak memasak ini didukung penuh Sama suami yang katanya pengen bgt Makan makanan istri, bukan makanan beli di luar :p

Project ini kami beri nama “Pejuang Dapur”. Kalo boleh milih mah saya lebih seneng bersihin rumah daripada masak, makanya ini project namanya agak epic, pake kata pejuang Karna butuh perjuangan 😜

Setelah beberapa kali menghadapi kompor, saya udah ga terlalu menjaga jarak (Karna takut keciprat minyak), skrg udah rada tau segimana jarak Aman Sama kompor 😂, sebelumnya bahkan saya pake helm saat menggoreng Ayam 😂😂😂suami ketawa2 aja

Ohya beliau ini lumayan bisa masak drpd saya jadi biasanya kita bagi tugas, walaupun udah cape pulang kerja tapi masih mau bantuin masak *terharuuu

Jadi saya bikin lauk dan beliau bikin sayur/sambel. Kayak lauk hari ini saya bikin semur telur dan beliau oseng sawi


Rasa masakan hari ini pun lebih mendingan daripada hari hari sebelumnya. Alhamdulillah makasi ya Allah hari ini racikan nya mayan sukses

Melatih diri dengan keluar Dari zona nyaman membuat saya explore cara masak memasak, kenal Bumbu ini itu, bisa bikin taste makanan yg begini dan begitu, Pokoknya seneng deh 🎊

Mudah2an semangat masaknya berkesinambungan, bisa menyediakan makanan sehat buat keluarga 🙂

#tantangan_hari_ke1

#kelasbunsayiip3

#game_level_3

#kami_bisa

Peradaban dari Dalam Rumah

Materi #3 PERADABAN DARI DALAM RUMAHKELAS MATRIKULASI BATCH 4

INSTITUT IBU PROFESIONAL

☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘

PERADABAN DARI DALAM RUMAH

Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional

👨👩MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH👨👩

“ Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya ”

Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.

Maka tugas utama kita sebagai pembangun peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.

Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “ misi spesifiknya ”, tugas kita memahami kehendakNya.

Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “ peran spesifik keluarga” kita di muka bumi ini. 

Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.

Darimana kita harus memulainya?
🙋 PRA NIKAH

Buat anda yang masih dalam taraf memantaskan diri agar mendapatkan partner membangun peradaban keluarga yang cocok, mulailah dengan tahapan-tahapan ini:

a. Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua anda dulu?

b. Adakah yang membuat anda bahagia?

c. Adakah yang membuat anda “sakit hati/dendam’ sampai sekarang?

d. Apabila ada, sanggupkah anda memaafkan kesalahan masa lalu orangtua anda, dan kembali mencintai, menghormati beliau dengan tulus?

Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab dengan baik, maka melajulah ke jenjang pernikahan.

Tanyakan ke calon pasangan anda ke empat hal tersebut, minta dia segera menyelesaikannya.

Karena,

ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA , AKAN MENYISAKAN BANYAK LUKA KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK

👨👩👧👧 NIKAH

Untuk anda yang sudah berkeluarga, ada beberapa panduan untuk memulai membangun peradaban bersama suami anda dengan langkah-langkah sbb:

🍀Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?

🍀Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?

🍀Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?
🍀Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?

Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “ misi pernikahan” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.
👩👧👧 ORANGTUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)

Buat anda yang saat ini membesarkan anak anda sendirian, ada pertanyaan tambahan yang perlu anda jawab selain ke empat hal tersebut di atas.

a. Apakah proses berpisahnya anda dengan bapaknya anak-anak menyisakan luka?

b. Kalau ada luka, sanggupkah anda memaafkannya?

c. Apabila yang ada hanya kenangan bahagia, sanggupkah anda mentransfer energi tersebut menjadi energi positif yang bisa menjadi kekuatan anda mendidik anak-anak tanpa kehadiran ayahnya?

Setelah ketiga pertanyaan tambahan di atas terjawab dengan baik, segeralah berkolaborasi dengan komunitas pendidikan yang satu chemistry dengan pola pendidikan anda dan anak-anak.

Karena,

IT TAKES A VILLAGE TO RAISE A CHILD

Perlu orang satu kampung untuk mendidik satu orang anak

Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalanNya.

Karena

Orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang

Tahap berikutnya nanti kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.

Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan

Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/
SUMBER BACAAN

Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan Kontribusi keluarga dalam Membangun Peradaban, Jogjakarta, 2013

Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016

Muhammad Husnil, Melunasi Janji Kemerdekaan, Jakarta, 2015

Kumpulan artikel, Membangun Peradaban, E-book, tanggal akses 24 Oktober 2016